Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2015

Kompromi

kompromi menjadi hal yang lumrah bagi para manusia. mereka berdiskusi, bersitegang dahulu, lalu melunak dan akhirnya sepakat. esensi dari kompromi adalah sepakat. karena manusia itu tempatnya inginnya sebuah pengakuan, kesamaan dengan egonya. lalu cinta? mungkin cinta pun sebuah kompromi yang menuju sebuah kesepakatan. kesepakatan antar 2 insan manusia. karena 2 manusia yang kenal cinta, ingin menuju sepakat maka akhirnya mereka berkompromi. sebuah kompromi yang pasti tiada akhirnya. mereka berbicara, berdiskusi, terjadi drama marahan beberapa hari, lalu melunak, berjanji satu sama lain, mengurangi ego mereka walau masih terasa egois diantara mereka dan sepakat walau mau tak mau karena mereka 2 insan manusia yang cinta mencinta. keesokan harinya... 2 hari berikutnyaa... 1 bulan berlalu... 1 tahun berjalan... selama itu dan samapai kapan pun akhirnya mereka pun terus, terus dan terus berkompromi. untuk mereka untuk ego mereka, untuk keinginan mereka yang alih alih menuj

Menunggu

Bahwa keadaannya menunggu itu hal tersulit bagi manusia. dikala manusia itu harus menunggu ia perlu banyak berkompromi. mungkin kompromi juga menjadi hal yang sulit bagi manusia. karena ia harus mampu menerima hal yang kadang tidak diinginkannya, tetapi harus dilakukannya lalu menyepakatinya dengan pasangannya. lalu... ketika kompromi sudah di titik sepakat. lalu mereka manusia mulai menunggu kembali, kembali... kembali... dan kembali menunggu. lalu pertanyaannya. sampai kapankah menunggu itu usai? ...mungkin tak pernah usai, karena pada hakikatnya manusia itu memang tempatnya menunggu menunggu hingga akhirnya di panggil oleh yang Maha Kuasa bertemu padaNya dan pada titik itulah akhirnya manusia terbebas dari kata Menunggu. Khinnethia Enjoy!!!